TUGAS 12
TUTI NURHAYATI (1620184)
TAHAPAN PENANGGULANGAN DISIPLIN KELAS
A. Pengertian
Pengelolaan Kelas
Salah
satu tugas guru yang harus dilaksanakan adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan
kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak
didik seingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif, efesien dan produktif.
Ketika kelas terganggu, guru berusaha
mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Dalam konteks yang demikian itulah
kirana pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapa pun juga yang
menerjunkan dirinya kedalam dunia pendidikan. Maka adalah penting untuk
mengetahui pengertian pengelolaan kelas dalam hal ini. Pengelolaan kelas
terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan ‘ankelas. Pengelolaan itu sendiri
akar katanya adalah “kelola”, ditambah awal “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain
ari kata pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya
dari bahasa Inggris, yaitu “management”, yang berarti ketatalaksanaan, tata
pimpinan, pengelolaan.
Hadari Nawawi memandang klas dari dua
sudut, yaitu:
1.
Kelas
dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat
sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar.
Kelas dalam pengerian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekedar
menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang antara lain
didasarkan pada batas umum kronologis masing-masing.
2.
Kelas
dalam arti luas adalah, suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari
masayarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja
yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang
kreatif untuk mencapai suatu tujuan.
B. Tujuan
Pengelolaan kelas
Menurut (Sudirman N, 1991, 311) Tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan.
Secara umum tujuan pengelolaa kelas adalah penyediaan fasilitas bagi
bermcam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa
belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberikan kepuasan,
suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi
pada siswa.
Suharsimi Arikunto (1988,
68) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak dikelas
dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara
efektif dan efisien.[2] Menurutnya,
sebagai indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah apabila:
1. Setiap
anak harus bekerja, tidak macet, artinya ada anak yang berhenti karena tahu ada
tugas yang dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
2. Setiap
anak terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap anak akan
bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya.
Apabila ada anak yag walaupun tahu dan dapat melaksanakan tugasnya, tetapi
mengerjakannya kurang bergairah dan mengulur waktu bekerja. Maka kelas tersebut
dikatakan tidak tertib.
C. Usaha
Pencegahan Masalah Dalam Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas merupakan
kegiatan atau tindakan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal
agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan tersebut dapat
berupa tindakan yang bersifat pencegahan dan atau tindakan yang bersifat
korektif.
Tindakan yang
bersifat bersifat pencegahan (prefentif) yaitu dengan
jalan menyediakan kondisi baik fisik maupun kondisi sosio emosional sehingga
terasa benar oleh siswa rasa kenyamanan dan keamanan untuk belajar. Sedangkan
tindakan yang bersifat korektif merupakan tindakan
terhadap tingkah laku yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi proses
belajar mengajar yang sedang berlangsung. Tindakan yang bersifat korektif
terbagi dua, yaitu tindakan yang seharusnya segera diambil guru pada saat
terjadi gangguan (dimensi tindakan) dan penyembuhan
(kuratif) terhadap tingkah laku yang menyimpang yang terlanjur
terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut.
1.
Usaha
Yang Bersifat Pencegahan (Preventif)
Tindakan pencegahan adalah
tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang
mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Keberhasilan dalam
tindakan pencegahan merupakan salah satu indikator keberhasilan manajemen
kelas. Konsekuensinya adalah guru dalam menentukan langkah-langkah dalam rangka
manajemen kelas harus merupakan langkah yang efektif dan efisien untuk jangka
pendek maupun jangka panjang. Adapun langkah-langkah pencegahannya (Maman
Rahman : 1998) sebagai berikut :
a.
Peningkatan
Kesadaran Diri Sebagai Guru
Langkah peningkatan
kesadaran diri sebagai guru merupakan langkah yang strategis dan mendasar,
karena dengan dimilikinya kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab
dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan
tugasnya. Implikasi adanya kesadaran diri sebagai guru akan tampak pada sikap
guru yang demokratis, sikap yang stabil, kepribadian yang harmonis dan
berwibawa. Penampakan sikap seperti itu akan menumbuhkan respon dan tanggapan
positif dari pesefrta didik.
b.
Peningkatan
Kesadaran Peserta Didik
Interaksi positif antara
guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran terjadi apabila dua kesadaran
(kesadaran guru dan peserta didik) bertemu. Kurangnya kesadaran peserta didik
akan menumbuhkan sikap suka marah, mudah tersinggung, yang pada gilirannya
memungkinkan peserta didik melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji yang
dapat mengganggu kondisi optimal dalam rangka pembelajaran. Untuk meningkatkan
kesadaran peserta didik, maka kepada mereka perlu melaksanakan hal-hal tersebut
: (1) memberitahukan akan hak dan kewajibannya sebagai peserta didik, (2)
memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan para peserta didik, (3)
menciptakan suasana saling pengertian, saling menghormati dan keterbukaan
antara guru dan peserta didik.
c.
Sikap
Polos Dan Tulus Dari Guru
Guru hendaknya bersikap
polos dan tulus terhadap peserta didik. Sikap ini mengandung makna bahwa guru
dalam segala tindakannya tidak boleh berpura-pura bersikap dan bertindak apa
adanya. Sikap dan tindak laku seperti itu sangat mempengaruhi lingkungan
belajar, karena tingkah laku, cara menyikapi dan tindakan gurumerupakan
stimulus yang akan direspon atau diberikan reaksi oleh peserta didik. Kalau
stimuli itu positif maka respon atau reaksi yang akan muncul adalah negatif.
Sikap hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan atau keluhan para siswa,akrab
dengan guru akan membukakemungkinan terjadi interaksi dan komunikasi wajar
antara guru dan peserta didik.
d.
Mengenal
Dan Mngenal Alternatif Pengelolaan
Untuk mengenal dan
menemukan arternatif pengelolaan, langkah ini menuntut guru : (1) melakukan
tindakan identifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku peserta didik baik
individual maupun kelompok. Penyimpangan perilaku peserta didik baik individual
maupun kelompok tersebut termasuk penyimpangan yang disengaja dilakukan peserta
didik yang hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau teman-temannya., (2)
mengenal berbagai pendekatan dalam manajemen kelas. Guru hendaknya berusaha
menggunakan pendekatan manajemen yang dianggap tepat untuk mengatasi suatu
situuasi atau menggantinya guru lainnya yang gagal atau berhasil sehingga
dirinya memiliki alternatif yang bervariasi dalam menangani berbagai manajemen
kelas.
e.
Menciptakan
Kontrak Sosial
Penciptaan kontrak sosial
pada dasarnya berkaitan dengan “standar tingkah laku” yang diharapkan seraya
memberi gambaran tentang fasilitas bserta keterbatasannya dalam memenuhi
kebutuhan peserta didik. Pemenuhan kebutuhan tersebut sifatnya individual
maupun kelompok dan memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Standar tinkah
laku ini dibentuk melalui kontrak sosial antara sekolah/guru dan peserta didik
norma atau nilai yang turunnya dari atas dan tidak dari bawah, jadi sepihak,
maka akan terjadi bahwa norma itu kurang dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu,
dalam rangka mengelola kelas norma berupa kontrak sosial (tata tertib) dengan
sangsinya yang mengatur kehidupan didalam kelas, perumusannya harus dibicarakan
atau disetujui oleh guru dan peserta didik. Kebiasaan yang terjadi dewasa ini
bahwa aturan-aturan sebagai standar tingkah laku berasal dari atas
(sekolah/guru). Para peserta didik dalam hal ini hanya menerima saja apa yang
ada. Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menolaknya. Konsekuensinya
terhadap kondisi demikian memungkinkan timbulnya persoalan-persoalan dalam
pengelolaan kelas katrena pesertan didik tidak merasa turut membuat serta
memiliki peraturan sekolah yang sudah ada tersebut.
2.
Usaha
Yang Bersifat Penyembuhan (Kuratif)
Kegiatan yang bersifat
penyembuhan mengikuti langkah sebagai berikut :
a.
Mengidentifikasi
masalah
Pada langkah ini, guru
mengenal atau mengetahui masalah-masalah pengelolaan kelas yang timbul dalam
kelas. Berdasar masalah tersebut guru mengidentifikasi jenis penyimpangan
sekaligus mengetahui latar belakang yang membuat peserta didik melakukan
penyimpangan tersebut.
b.
Menganalisis
masalah
Pada alngkah ini, guru
menganalisi penyimpangan peserta didik dan menyimpulkan latar belakang yang
membuat peserta didik melakukan penyimpangan tersebut.
c.
Menilai
alternatif-alternatif pemecahan
Pada langkah ini guru
menilai dan memilih alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat dalam
menanggulangi masalah.
d.
Mendapatkan
balikan
Pada langkah ini guru
melaksanakan monitoring, dengan maksud menilai keampuhan pelaksanaan dari
alternatif pemecahan yang dipilih untuk mencapai sasaran yng sesuai dengan yang
direncanakan. Kegiatan kilas balik ini dapat dilaksanankan dengan diadakan pertemuan
dengan para peserta didik. Maksud pertemuan perlu dijelaskan oleh guru sehingga
peserta didik mengetahui serta menyadari bahwa pertemuan diusahakan dengan
penuh ketulusan, semata-mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun
sekolah.
3.
Usaha
Yang Bersifat Mengajak (Persuasif)
Persuasif adalah seni dalam
meyakinkan seseorang untuk melakukan sesuatu. [4]Ada
banyak kiat dan taktik untuk menguasainya. Tetapi, hal itu bukan hanya
berpengaruh dalam jangka pendek. Cara Meningkatkan Motivasi Belajar, banyak
siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik.
Sehingga yang dikejar
hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu
bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat
oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar
yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan
nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.
Hadiah adalah cara
memotivasi siswa supaya giat belajar, mampu memotivasi siswa untuk belajar
adalah perjuangan yang dihadapi oleh semua guru. Mampu memotivasi siswa untuk
belajar memang menjadi tantangan yang dihadapi para guru sehari-hari. Ini
merupakan salah satu komponen penting dari pengajaran yang efektif, termasuk
pengaturan kelas. Jika siswa tidak termotivasi belajar, maka besar kemungkinan
mereka tidak akan terlibat dalam pelajaran. Lalu, jika mereka tidak terlibat
dalam pelajaran akan menyebabkan bermacam masalah dalam manajemen kelas.
D. Berbagai
pendekatan dalam pengololan kelas
Penelolaan kelas bukanlah
masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor.
Permasalahan anak didik adalah faktor utama yang terkait langsung dengan hal
ini karena pengelolaan kellas dilakukan guru tidak lain adalah untuk
meningkatkan kegairahan peserta anak didik secara kelompok maupun secara
individual. Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraiyan sebagai
berikut:
1.
Pendekatan kekuasaan
Pengelolaan kelas di
artikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik. Peranan
guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas.
2. Pendekatan
ancaman
dari pendekatan ancaman
atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai proses mengontrol
anak didik. Tetapi dalam mengontol tingkah laku nanak didik dilakukan dengan
cara memberikan ancaman misalnya melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa.
3. Pendekatan
kebebasan
pengelolaan diartikan
sebagai suatu peroses unutk membantu anak didik agar merasa bebas untuk
mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja.
4. Pendekatan
resep
Pendekatan resep (cook
book) ini dilakukan dengan memberikan suatu daftar yang dapap mengambarkan apa
yang harud dan yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam meriaksikan semua
masalah yangh terjadi dalam kelas.
5. Pendekatan
pengajaran
Pendekatan ini didasarkan
atas suatu anggapan bahwa suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencengah
munculnya tingkah laku peserta didik dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa
dicegah.
Daftar
Pustaka
Dadang,
Suhardan. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Syaiful
Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
PT Renika Cipta.
Tutut
Sholihah. 2008. Strategi Pembelajaran Yang Efektif. Jakarta: Citra Grafika
Desain.
Terima kasih buat materi nya kak sangat bagus
BalasHapusTerimakasih kembali
HapusSangat mudah di pahami
BalasHapusTerimakasih
HapusBagus materinya kak
BalasHapusTerimakasih
HapusBagus dan mantap.
BalasHapus